04 Juni 2013

Gunung Krakatau Yang Bertumbuh

Gunung Krakatau
Apakah anda sudah pernah berwista ke kawasan Gunung Krakatau? kawasan ini menawarkan suasana yang sangat berbeda dengan tempat lain, dan pemandangan yang sangat menakjubkan, dimana gunung ini selalu mengeluarkan atau bernafas mengeluarkan debu ke angkasa. Dan Gunung ini selalu bertumbuh sehingga gunung ini selalu bertambah tinggi.

 Salah satu keajaiban alam yang ada di Indonesia adalah Gunung Krakatau, dimana gunung yang teletak di selat sunda ini selalu mengalami pertumbuhan, setiap hari selalu mengalami perubahan dan dalam satu tahun bisa mengalami pertumbuhan beberapa centi meter. Tahun 1927 gunung ini muncul kembali ke permukaan yang biasa di sebut Gunung Anak Krakatau. Sekarang tinggi Gunung Anak Krakatau sekitar 250 Meter - 300 Meter (dpl). Berarti setiap tahun mengalami pertumbuhan 3-5cm, Tetapi seperti yang kita ketahui bahwa Gunung anak krakatau selelu meletus setiap sekali dalam 3 atau 5 tahun.



Informasi terbaru yang di lansir dari suarapembaruan tentang aktifiitas gunung anak krakatau.

"Kondisi Anak Krakatau jauh lebih tenang dibandingkan dua hari sebelumnya, di mana terjadi erupsi dan gempa tremor secara terus menerus di puncak Anak Krakatau", ujar Andi Suardi, Kepala Pos Pemantau Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan pada SP selasa sore (4/9).

Meskipun saat ini sudah mulai tenang dan letusan semakin berkurang, tapi statusnya masih tetap waspada sembari Andi menambahkan bahwa aktivitas GAK hingga siang ini belum dapat dipantau oleh pos pemantau karna alat sesmometer yang terpasang di GAK masih rusak. Sehingga aktivitas GAK masih belum terpantau.

Menurut Andi Suardi, pantauan secara visual menggunakan tropong pun masih belum bisa dilakukan. Sebab jalur pandang dari pos yang berjarak sekitar 40 kilometer dari GAK tersebut terhalang kabut. "Kita masih belum bisa melakukan pemantauan aktivitas. Sebab seismograf masih belum berfungsi. Dan pantauan secara visual masih terhalang kabut," paparnya.

Pada bagian lain dikatakan Andi sejauh ini dari Badan Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi masih belum menaikan status GAK. Dan status GAK masih tetap waspada. Namun masyarakat tetap diminta untuk tidak beraktivitas dalam jarak 3 - 4 kilometer.

Dibantah

Sementara itu Badan Meteologi dan Geofisika (BMG) Lampung membantah pernyataan Kepala Badan Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (BVMKG) Kementrian ESDM, Surono yang menyatakan bahwa debu hitam yang bertebaran di kota Bandar Lampung disebabkan oleh kebakaran hutan. Menurut Nurhada, Kasi Observasi dan Informasi pernyataan Surono, yang menyebutkan itu bukan ada abu vulkanik sangat mengherankan. Apalagi didasarkan pada ketinggian letusan Gunung Anak Krakatau (GAK).

Nurhada mengatakan, untuk memastikan apakah debu hitam tersebut berasal dari abu vulkanik atau bukan, caranya dengan tempelkan jari ke debu yang menempel di kaca mobil misalnya, lalu dicium. "Jika berbau seperti belerang maka itu pasti dari abu vulkanik GAK," tegasnya.


Profesor Suharno, guru besar Fakultas Teknik (FT) Universitas Lampung (Unila) yang juga ahli Geologi mengatakan Gunung Anak Krakatau (GAK) dalam keadaan normal periodis sejak 1992 hingga 2012. Munculnya GAK ke permukaan air laut sejak 1927, terhitung mulai tahun 1935 mulai menunjukan ketinggiannya, tahun 1992 ketinggian GAK sekitar 100 meter.

Adapun aktifnya GAK dibagi menjadi dua periode yakni panjang dan pendek, saat ini adalah periode pendek, yakni setiap tahun pasti akan ada debu yang akan keluar (muntah) ke permukaan, keluarnya magama tersebut secara perlahan (evusif).

Untuk periode panjang gunung akan meleteus setiap 700 tahun sekalu, seperti yang terjad pada Gunung Krakatau purba tahun 1883 lalu di Lampung. (NVS)

1 komentar:

Umofxindo.com mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.